Kamis, 07 April 2016

Cerpen



Setetes Harapan di Suriah
Oleh Akhmat Fauzi
          Di tengah-tengah perkotaan Surabaya, berjajar rumah-rumah mewah di sekitar Sukolilo. Arah paling kiri kawasan perumahan berdiri apartemen setinggi 20 lantai. Pada apartemen lantai delapan, nampak seorang pria duduk di teras memandangi langit yang diterangi bintang dari kamarnya. Pikiran pria tersebut terlihat bingung. Aura wajahnya tampak suram.
***
          Hari ini aku beruntung bisa melihat bintang di malam ini. Aku juga bisa menikmati iringan semilir angin di tengah kegalauan yang melandaku. Meskipun masih banyak tugas yang belum kukerjakan selepas pulang dari pabrik, aku kurang memperdulikannya. Bahkan jika aku besok aku harus dimarahi atasanku seadainya aku tidak cukup waktu menyelesaikannya. Aku hanya ingin menikmati malam ini dan merenungkan kembali hidupku.
          Sudah satu tahun aku melepas statusku sebagai mahasiswa dan satu tahun pula aku bekerja pada perusahaan batu bata ringan. Gaji yang kudapatkan pun sudah cukup besar bagiku. Setidaknya membantuku untuk makan dan membiayai cicilan rumah yang ingin kubeli. Namun, aku masih merasa ada yang kosong dalam diriku.
          Aku baru menyadari bahwa aku kehilangan tujuan sejati dalam hidupku. Kehidupanku yang nyaman menjauhkanku diriku dari mimpiku.  Serentak apa yang kulakukan terasa hanyalah omong kosong.
          Aku masih ingat ketika masih dalam lingkungan kampus. Aku memutuskan mengabdikan hidupku pada agama dan negara. Oleh karena itu, aku bergabung dalam organisasi dakwah kampus. Saat itu, aku bukan hanya merasakan kebahagiaan membantu orang lain, namun juga tantangan dalam berorganisasi. Masih terbayang dalam benakku, betapa sedikitnya anggota yang aktif dalam organisasi tempatku bernaung. Namun, aku bersama kawan-kawanku berhasil mengatasi permasalahan tersebut. Proker (program kerja) yang sebelumnya aku kira akan gagal, dapat terlaksana dengan baik. Aku dan kawan-kawanku bahkan sukses mengajak anggota yang sebelumnya jarang terlihat di organisasi untuk kembali aktif.
            Kesenanganku saat menjadi aktivis bukan itu saja. Masih ingat di benakku pada hari senin dan kamis, aku bersama rekan-rekan seperjuanganku pasti makan bersama selepas mahgrib. Baik bagi mereka yang berpuasa maupun tidak. Keakraban yang terjalin membuat perasaan saat itu nyaman. Apalagi orasi agama yang disampaikan sebelum makan membuat telingaku dingin.
            Namun tentu saja, masa itu telah beakhir. Semua cerita itu kini tinggal kenangan. Aku berpikir saat memasuki dunia kerja aku bisa merasakan suasana yang sama. Tetapi tidak. Setelah diterima kerja dan melewati masa training selama enam bulan, aku merasa bosan dengan pekerjaanku sendiri. Lingkungan kerjaku terlalu jenuh dan santai. Waktuku lebih banyak kuhabiskan di pabrik. Aku sudah jarang lagi aktif dalam kegiatan sosial.
          Aku berpikir bahwa aku akan lupa tujuan hidupku jika beberapa minggu lalu aku tidak mendapat kabar bahwa adik angkatanku mencalonkan diri sebagai relawan kemanusiaan dalam lembaga swadaya masyarakat. Aku baru mengatahui bukan hanya adik angkatanku. Beberapa temanku dalam satu organisasi kini juga telah bergabung sebagai relawan kemanusiaan. Aku bertemu mereka kemarin saat membuka posko sumbangan kemanusiaan untuk warga Suriah. Saat itulah aku sadar bahwa aku jauh dari jalan yang selama ini ingin kutempuh. Aku telah menjadi penakut.
            Sekarang aku di sini memojok di luar jendela memandangi bintang. Aku sadar bagaimana kondisi masyarakat Islam saat ini. Sekali saja aku membuka tayangan berita di televisi, aku akan mendapati drama korupsi di negaraku sendiri. Ironisnya, tatkala koruptor tersebut telah ditangkap, mereka hanya dijatuhi hukuman ringan beberapa tahun. Padahal orang yang miskin yang mencuri kayu saja bisa diganjar hukuman belasan tahun. Di lain pihak, pertikaian antar golongan umat Islam di negeriku masih sering terjadi. Untungnya kondisi negaraku berbeda dengan negara Islam lainnya.
            Jika aku menelusuri pemberitaan lebih jauh hingga luar negeri, aku akan mendapati banyak berita tentang penderitaan masyarakat muslim di berbagai negara. Kondisi masyarakat Suriah mungkin yang paling memprihatinkan. Berita yang kudapat dari salah satu situs di internet menyebutkan bahwa kelaparan saat ini tengah menyelimuti kota Madaya dan Sergaya, salah satu kota kecil di Suriah. Masyarakat di kedua kota tersebut terjebak perang sipil dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Bahkan aku mendengar kabar masyarakat di sana rela memakan rumput hingga kucing dan anjing mereka hanya untuk bertahan hidup.
            “Aku tak bisa hidup begini terus, mungkin sebaiknya aku berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain yang tidak menyita banyak waktuku. Setelah itu, aku bisa bergabung sebagai relawan untuk membantu masyarakat Suriah,” ucapku dalam hati.
          Akhirnya keputusan sudah bulat. Aku harus kembali ke jalurku sebelumnya untuk menolong masyarakat yang kesusahan. Aku akan bergabung menjadi relawan kemanusiaan. Bukan hanya sekedar menjadi relawan yang berperan mengumpulkan dana bantuan, aku juga ingin pergi ke daerah rawan konflik dan memberikan bantuan secara langsung ke sana. Aku ingin pergi ke Suriah.
          Sejurus kemudian, mengambil ponsel dan langsung menelpon temanku yang aktif sebagai relawan sekarang. Aku ingin menawarkan diriku sebagai relawan kemanusiaan. Pembicaraanku dengan temanku berlangsung hangat. Dia dengan senang hati menerima kehadiranku dalam organisasi kemanusiaan.
***
          Keesokan harinya aku menghubungi kedua orang tuaku dan memberitahu mereka bahwa aku akan kembali ke Banyuwangi.  Terang saja orang tuaku heran melihatku ingin kembali ke kampung halaman setelah baru beberapa bulan sebelumnya telah pulang.
          Sesampai di rumah aku membicarakan rencanaku pada orang tuaku. Mendengar keinginanku, ayah langsung menatapku dengan tajam.
          “Buat apa kamu ingin berhenti bekerja dan jadi relawan kemanusiaan. Kamu kira kamu utusan Tuhan. Banyak orang-orang yang miskin dan kelaparan di sana sini. Namun, kamu perlu ingat bahwa itu bukan kewajibanmu untuk menolong mereka. Itu urusan Tuhan.”
            “Sabar, Yah,” Ibuku berusaha menenangkan ayahku. “Nak. Kamu serius ingin jadi relawan dan pergi ke Suriah. Jika ingin membantu mereka, menyumbang saja kan cukup. Pikir dulu. Jangan sampai nanti menyesal.”
            “Iya. Saya sudah berpikir masak-masak. Ini keputusan tepat. Setelah saya kembali dari Suriah, saya akan mencari pekerjaan lagi. Pekerjaan yang sekiranya tidak menguras waktu saya, sehingga saya bisa mengabdikan diri untuk agama dan masyarakat.”
            Ibuku membisu beberapa saat namun tidak dengan ayahku.
            “Mengapa kamu yang harus pergi? Biarkan orang lain saja yang melakukannya!” ayahku kembali menghantam diriku dengan perkataannya.
            “Ayah, aku harus pergi. Sekarang tidak banyak orang yang bersedia mendaftarkan dirinya sebagai relawan yang mau pergi ke Suriah secara langsung. Aku merasa terpanggil untuk pergi ke sana dan membantu masyarakat di sana.”
            Ayahku tetap tidak menerima ucapanku dan terus mendebat diriku hingga lebih dari dua jam. Melihat pertikaian diriku dan ayahku yang terus memanas. Ibu berusaha melerai kami dan memanggil kakak ayahku. Berkat pamanku, ayahku menjadi luluh dan merestui keputusanku.
***
          Tiga hari sepulang dari Banyuwangi, aku kembali ke Surabaya. Di sana aku aku langsung aktif sebagai relawan kemanusiaan. Aku bersama relawan lainnya saling bahu-membahu mengumpulkan dana bantuan ke Suriah. Berkat jaringan sosialku yang luas, aku berhasil mendapatkan sumbangan dana tiga miliar rupiah.
          Hingga minggu kelima aku aktif sebagai relawan, kami telah mengumpulkan dana lebih dari 36 miliar rupiah. Kami pun siap sekarang menyalurkan bantuan ini. Ada aku dan 24 temanku sesama relawan yang akan ke Suriah.
          Hari ini koloni manusia yang lebih rindu surga daripada keluarga serta yang menamakan dirinya sebagai aktivis sosial berkumpul di bandara Juanda. Aku melihat kepergian teman-temanku tidak sendirian, beberapa sanak kelurga datang mengantar mereka. Begitu pula denganku. Orang tuaku yang semula kupikir tidak datang untuk melihatku, ternyata datang bersama kakakku. Aku pun berpesan pada saudara lelakiku untuk menjaga orang tuaku.
          Kami kemudian berangkat naik pesawat menuju Istanbul, Turki. Sesampainya di Turki, kami mengontak NGO Humitarian1 yang bermarkas di Istanbul. Di sana mereka sudah mempersiapkan mobil bagi kami untuk berangkat ke Suriah. Di ibukota Turki itu pula, kami menggunakan dana yang terkumpul untuk membeli makanan, obat-obatan, pakaian dan selimut serta fasilitas medis. Setelah semua sudah dipersiapkan,  kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Suriah lewat jalur darat.
          Perjalanan untuk mengantarkan bantuan kepada warga Suriah tak semudah yang kubayangkan. Kami harus memasuki dua pos pemeriksaan di perbatasan Turki-Suriah. Bukan hanya barang kami yang diperiksa. Aku dan teman-teman relawan lainnya pun harus menjalani serangkaian wawancara. Mirip dengan tes kerja bagiku. Selain itu, jalan raya menuju di Suriah banyak yang rusak sehingga menyulitkan kami sampai di kota Madaya. Bahkan setiba kami di kota Madaya. Kami kembali harus menjalani interogasi. Kami harus menunjukkan surat izin yang sebelumnya kami dapatkan dari kedutaan Suriah yang menunjukkan bahwa kami datang ke sini untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
***
          Jalanan sekitar kota tampak dijaga oleh petugas militer. Aku melihat ke arah langit biru yang membentang luas. Di sana terdapat tiga pesawat drone2 yang mengelilingi kota. Aku tidak tahu negara mana saja pemilik pesawat tersebut. Kami saat ini tengah membagikan bantuan makanan kepada masyarakat kota Madaya. Meskipun awalnya proses pembagian bantuan nampak lancar namun lama-kelamaan terjadi hiruk pikuk.
          Aku bisa melihat kericuhan kecil terjadi di belakang barisan antrian. Efek domino sepertinya tak dapat dihindarkan. Barisan belakang terus mendesak hingga menjadi tak beraturan. Orang-orang dari belakang merangkak ke depan seolah hendak melawan. Nampaknya mereka khawatir tidak mendapat bantuan sumbangan. Suasana antrian yang semula kondusif pun menjadi sangat berlawanan sekarang. Kami para relawan berusaha melerai kerisuhan dan mengembalikan posisi semua.
          “Tenang semuanya nanti kebagian”
          Meskipun begitu orang-orang tak mendengar yang aku katakan. Mereka terus berebut bantuan yang kami bagikan. Beberapa menit kemudian terdengar beberapa suara tembakan. Aku pun kaget mendengar suara itu. Seorang tentara dengan kacamata hitam berteriak keras agar kami tertib. Orang-orang yang sebelumnya berebut makanan kembali ke posisi antrian semula.
          Melihat suasana kembali teratur, aku pergi ke bagasi mobil belakang untuk mengambil pakaian dan selimut yang akan aku bagikan. Sekilas aku melihat seorang anak perempuan di belakang mobil kami. Dia berambut sangat pendek dan saat itu ia mengenakan brokat lengan panjang.
          Anak perempuan itu jongkok menghadap mobil kami dan sesekali menolehkan kepalanya ke arahku . Kesedihan tergambar jelas dari wajahnya. Aku berpikir kenapa ia tidak ikut antri bersama yang lainnya.
          Aku kemudian menghampirinya dan menanyakan keberadaan orang tuanya. Namun ia tidak menjawab.
          “Apa kamu lapar?”
          Anak perempuan itu hanya menggangguk menanggapi pertanyaanku kali ini. Aku pun lantas memberikan roti padanya.
          Anak perempuan itu makan roti yang kuberikan,  menoleh padaku beberapa saat, lantas tersenyum. Keragu-raguan tidak lenyap dari wajahnya. Kepalanya miring sejenak. Matanya sekejap berbinar dan berkata, “Seandainya kami bukan orang Islam, mungkin kami tidak akan bernasib seperti ini”
          Aku kaget mendengar perkataannya. Sejenak aku berpikir bahwa mungkin hal itu benar. Konflik dalam dunia Islam selalu terjadi baik karena perebutan kekuasaan atau perpecahan golongan. Bisa pula karena kita terlalu mudah diadu domba pihak ketiga.
          Aku dulu pernah memikirkan, seandainya masyarakat negaraku mayoritas bukan penganut agama Islam, mungkinkah negaraku akan jauh lebih berkembang sekarang. Mungkinkah selama ini, agama Islam menjadi penghambat kemajuan umat manusia dan penyebab kesengsaraan. Apakah penderitaan masyarakat negara-negara Timur Tengah adalah salah agama Islam? Aku tidak tahu jawabannya. Dalam hati aku berusaha menyangkal bahwa agama Islam sebagai sumber konflik. Oleh sebab itu, sembari sejak remaja aku ingin memajukan dan mengembalikan kejayaan agama ini. Aku ingin menunjukkan pada orang yang mengangungkan akal pikiran mereka bahwa agama Islam merupakan petunjuk nyata dari Tuhan.
          Tatkala aku berusaha mengatakan bahwa agama ini bukan penyebab kondisi di negaranya, anak perempuan itu tiba-tiba berlari jauh pergi dariku, seolah-olah ia tahu apa yang akan kukatakan.
***
          Sehari setelah memberikan bantuan di kota Madaya, aku bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju markas misi medis internasional di kota Damaskus. Kami berencana memberikan bantuan obat-obatan dan perlengkapan medis lainnya pada dokter yang bekerja di sana. Sebelum pergi, aku berusaha menghubungi orang tuaku untuk memberitahukan bahwa kondisiku sehat-sehat saja. Namun ternyata tidak cukup sinyal di sini.
          Di markas medis intenasional, rupanya sudah menunggu beberapa teman relawan lainnya. Mereka berasal dari berbagai negara. Kami pun diundang untuk makan bersama. Aku merasa begitu senang rasanya. Bertemu dengan orang-orang baru dan merasa memiliki manfaat. Namun tiba-tiba suasana hangat berubah menjadi ketakutan.
          Suara ledakan terdengar dari atas gedung. Aku dan relawan lainnya mulai panik. Kami berlarian berusaha keluar gedung. Aku tidak habis berpikir bagaimana mungkin ada pihak yang berani menyerang pusat bantuan medis internasional.
          Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Bongkahan atap telah menimpa diriku. Kepalaku berdarah. Aku mulai kehilangan kesadaranku. Aku ingin berlari tetapi tak sanggup. Suara ledakan kembali terdengar. Kini tepat di sebelahku.
***
          Aku mulai merasa khawatir dengan kondisi putraku di Suriah. Sudah beberapa minggu dia tidak menghubungi kami. Secarik kopi hangat masih belum bisa menghilangkan kecemasan dalam pikiranku. Mungkin tayangan televisi akan membuat perasaanku jadi nyaman. Aku mengambil remote dan membuka beberapa saluran. Ketika membuka saluran berita, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi.
          “Tadi malam markas bantuan medis internasional di Damaskus terkena serangan roket. Saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan roket yang terjadi. Serangan roket telah menewaskan puluhan relawan asing. Di antara para relawan tersebut disebutkan ada relawan asal Indonesia. Berikut ini adalah daftar relawan Indonesia yang kami dapatkan meninggal saat ledakan terjadi,” ucap penyiar berita dengan keras.
          Mendengar kata-kata itu, jantungku berdetak kencang. Aku tak kuasa menahan tangis ketika melihat nama anakku terpampang jelas pada layar televisi sebagai salah satu korban meninggal serangan roket.


1) Organisasi relawan kemanusiaan internasional yang bermarkas di beberapa negara
2) Pesawat tanpa awak yang memliki bentuk, ukuran, konfigurasi dan karakter bervariasi.

Minggu, 25 Mei 2014

Ekonomi


Memberi Makan Negeri dengan Impor 
Oleh Akhmat Fauzi

            Beberapa bulan lalu, harga kedelai terus meroket tinggi. Kedelai yang semula harganya sekitar Rp 7.700 - Rp 8.000 per kg mengalami kenaikan harga menjadi Rp 9.000 - Rp 10.000 per kg. Harga kedelai yang mahal membuat pedagang mengurangi stok mereka, sehingga terjadi kelangkaan kedelai. Padahal setiap tahun, Indonesia mengkonsumsi sekitar 2,2 juta ton kedelai, sementara produksi dalam negeri hanya 800.00-850.000 ton kedelai.
           Untuk mengatasi kelangkaan kedelai, pemerintah Indonesia berencana mengimpor 100 ribu ton kedelai dari Amerika Serikat. Tentu ini bukan pertama kalinya pemerintah harus mengimpor dari negara lain untuk mengatasi kelangkaan produk pangan dalam negeri. Pada bulan juli 2013 Indonesia terpaksa mengimpor 300 ribu ton cabai karena kurangnya pasokan cabai di pasar lokal. Produk pertanian lain seperti beras, bawang, dan kentang juga harus diimpor dari luar negeri. Indonesia saat ini bahkan Indonesia adalah importir beras dan kedelai terbesar di dunia. Ketergantungan para pemerintah terhadap impor saat ini cukup tinggi, padahal nilai mata uang rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat.
            Melihat sekilas perjalanan rupiah, mata uang Indonesia sengaja dibiarkan mengambang bebas sesuai dengan pasar. Keberadaan rupiah sebagai sebuah mata uang berhadapan dengan mata uang negara lain mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pada tahun 1946, ketika itu nilai satu dollar yang semula sama dengan Rp 2.300,- menjadi Rp 5.500,- dan seterusnya nilai rupiah terjun bebas. Nilai rupiah tak kunjung stabil dan saat ini berada dikisaran 1 USD (US $) kurang lebih sama dengan Rp. 11.000,-.
            Kita harus mengingat bahwa nilai rupiah pernah mencapai Rp. 16.000 per dollar ketika krisis moneter 1998. Seharusnya krisis moneter 1998 mampu menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dengan cepat menyebar ke negara asia lainnya dengan satu tahun, termasuk Indonesia. Krisis moneter berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik. Waktu itu inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di negara ini. Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah. Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.
            Akhirnya pemerintah menerbitkan Undang Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Devisa Bebas, namun justru membuat keluar masuk mata uang asing tidak dapat lagi dikontrol. Karena itu pemerintah harus berhenti bergantung terhadap produk luar negeri karena tidak adanya kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Indonesia harus membenahi sektor pertanian, sebagai negara agraris seharusnya Indonesia dapat memenuhi makan penduduk bukan malah impor dari negara lain. Kita harus mencontoh negara tetangga kita Vietnam. Vietnam berkembang dari negara yang mengalami kekurangan pangan 30 tahun lalu menjadi eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand.
            Indonesia harus mampu merealisasikan rencana swasembada pangan. Memang Indonesia memiliki banyak permasalahan dalam melakukan swasembada pangan. Salah satunya jumlah lahan pertanian di Indonesia yang semakin berkurang.
            Luas daratan Indonesia kurang lebih 190,9 juta ha. Dari keseluruhan luasan tersebut, 37,1 % telah dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya, seperti sawah, pertanian lahan kering, perkebunan, ladang dan penggunaan lainnya, sedangkan 62,9% lainnya berupa hutan. Dengan adanya pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat ini, dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi dan industri, menimbulkan konversi lahan pertanian.
            Untuk mengatasi alih fungsi lahan yang tak terbendung pemerintah sebenarnya sudah mengelurkan Undang-undang Nomor 41 tahun 2009. Dalam undang-undang tersebut diatur bahwa lahan yang sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan dilindungi dan dilarang dialihfungsikan. Lahan pertanian yang dilindungi hanya dapat dialihfungsikan untuk kepentingan umum, yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. Namun kenyataannya, setelah empat tahun undang-undang tersebut dikeluarkan, masih banyak terjadi konversi lahan pertanian. Konversi lahan telah membuat luas lahan pertanian di Indonesia kian menyusut bahkan kalah luas dari Thailand yang penduduknya lebih sedikit
            Berdasarkan data Dinas Pertanian Sumatera Utara pada 2005, luas sawah di Kabupaten Langkat 49.415 ha. Namun, angka ini menurun menjadi 47.030 ha pada 2006, 45.747 ha pada 2007, dan berada di angka 42.985 ha di tahun 2010. Sementara itu, di Jawa Tengah laju penyusutan lahan produktif mencapai rata-rata 350-400 hektar per tahun. Badan Pertanahan Nasional mencatat sebanyak 3.099 juta ha lahan sawah yang telah diajukan permohonan untuk alih fungsi lahan oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat pada 2004.
            Banyak pilihan yang dapat dilakukan Indonesia untuk menyelamatkan lahan pertanian di Indonesia sebelum terlambat. Penetapan lahan pertanian abadi merupakan salah satu opsi kebijakan yang oleh sebagian pihak dianggap paling tepat untuk mencegah proses alih fungsi lahan pertanian. Pada dasarnya lahan pertanian abadi adalah penetapan suatu kawasan sebagai daerah konservasi, atau perlindungan, khusus untuk usaha pertanian. Alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non  pertanian dilarang dengan suatu ketetapan peraturan perundang-undangan. Jika dapat dilaksanakan secara efektif maka pastilah konversi lahan di kawasan konservasi tersebut tidak akan terjadi (Simatupang dan Irawan, 2003). Secara teoritis, dengan asumsi dapat diefektifkan, opsi kebijakan inilah yang paling ampuh untuk mencegah konversi lahan pertanian. Cara lain yang bisa dilakukan Indonesia adalah dengan menerapkan pajak yang sangat tinggi untuk alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, sementara memberikan tanah untuk pertanian hanya dipajaki sangat minim.
            Permasalahannya, seberapa serius pemerintah ingin menyelamatkan pertanian Indonesia. Apakah negara ini bersungguh-sungguh untuk melakukan swasembada pangan atau tetap pada solusi lama yaitu impor.