Setetes Harapan di Suriah
Oleh
Akhmat Fauzi
Di tengah-tengah perkotaan Surabaya, berjajar
rumah-rumah mewah di sekitar Sukolilo. Arah paling kiri kawasan perumahan
berdiri apartemen setinggi 20 lantai. Pada apartemen lantai delapan, nampak
seorang pria duduk di teras memandangi langit yang diterangi bintang dari
kamarnya. Pikiran pria tersebut terlihat bingung. Aura wajahnya tampak suram.
***
Hari ini aku beruntung bisa melihat
bintang di malam ini. Aku juga bisa menikmati iringan semilir angin di tengah
kegalauan yang melandaku. Meskipun masih banyak tugas yang belum kukerjakan
selepas pulang dari pabrik, aku kurang memperdulikannya. Bahkan jika aku besok
aku harus dimarahi atasanku seadainya aku tidak cukup waktu menyelesaikannya.
Aku hanya ingin menikmati malam ini dan merenungkan kembali hidupku.
Sudah satu tahun aku melepas statusku
sebagai mahasiswa dan satu tahun pula aku bekerja pada perusahaan batu bata
ringan. Gaji yang kudapatkan pun sudah cukup besar bagiku. Setidaknya
membantuku untuk makan dan membiayai cicilan rumah yang ingin kubeli. Namun,
aku masih merasa ada yang kosong dalam diriku.
Aku baru menyadari bahwa aku kehilangan
tujuan sejati dalam hidupku. Kehidupanku yang nyaman menjauhkanku diriku dari
mimpiku. Serentak apa yang kulakukan
terasa hanyalah omong kosong.
Aku masih ingat ketika masih dalam
lingkungan kampus. Aku memutuskan mengabdikan hidupku pada agama dan negara.
Oleh karena itu, aku bergabung dalam organisasi dakwah kampus. Saat itu, aku
bukan hanya merasakan kebahagiaan membantu orang lain, namun juga tantangan
dalam berorganisasi. Masih terbayang dalam benakku, betapa sedikitnya anggota
yang aktif dalam organisasi tempatku bernaung. Namun, aku bersama kawan-kawanku
berhasil mengatasi permasalahan tersebut. Proker (program kerja) yang
sebelumnya aku kira akan gagal, dapat terlaksana dengan baik. Aku dan
kawan-kawanku bahkan sukses mengajak anggota yang sebelumnya jarang terlihat di
organisasi untuk kembali aktif.
Kesenanganku
saat menjadi aktivis bukan itu saja. Masih ingat di benakku pada hari senin dan
kamis, aku bersama rekan-rekan seperjuanganku pasti makan bersama selepas
mahgrib. Baik bagi mereka yang berpuasa maupun tidak. Keakraban yang terjalin
membuat perasaan saat itu nyaman. Apalagi orasi agama yang disampaikan sebelum
makan membuat telingaku dingin.
Namun tentu
saja, masa itu telah beakhir. Semua cerita itu kini tinggal kenangan. Aku
berpikir saat memasuki dunia kerja aku bisa merasakan suasana yang sama. Tetapi
tidak. Setelah diterima kerja dan melewati masa training selama enam bulan, aku merasa bosan dengan pekerjaanku
sendiri. Lingkungan kerjaku terlalu jenuh dan santai. Waktuku lebih banyak
kuhabiskan di pabrik. Aku sudah jarang lagi aktif dalam kegiatan sosial.
Aku berpikir bahwa aku akan lupa
tujuan hidupku jika beberapa minggu lalu aku tidak mendapat kabar bahwa adik
angkatanku mencalonkan diri sebagai relawan kemanusiaan dalam lembaga swadaya
masyarakat. Aku baru mengatahui bukan hanya adik angkatanku. Beberapa temanku
dalam satu organisasi kini juga telah bergabung sebagai relawan kemanusiaan.
Aku bertemu mereka kemarin saat membuka posko sumbangan kemanusiaan untuk warga
Suriah. Saat itulah aku sadar bahwa aku jauh dari jalan yang selama ini ingin
kutempuh. Aku telah menjadi penakut.
Sekarang
aku di sini memojok di luar jendela memandangi bintang. Aku sadar bagaimana
kondisi masyarakat Islam saat ini. Sekali saja aku membuka tayangan berita di
televisi, aku akan mendapati drama korupsi di negaraku sendiri. Ironisnya,
tatkala koruptor tersebut telah ditangkap, mereka hanya dijatuhi hukuman ringan
beberapa tahun. Padahal orang yang miskin yang mencuri kayu saja bisa diganjar
hukuman belasan tahun. Di lain pihak, pertikaian antar golongan umat Islam di
negeriku masih sering terjadi. Untungnya kondisi negaraku berbeda dengan negara
Islam lainnya.
Jika
aku menelusuri pemberitaan lebih jauh hingga luar negeri, aku akan mendapati banyak
berita tentang penderitaan masyarakat muslim di berbagai negara. Kondisi
masyarakat Suriah mungkin yang paling memprihatinkan. Berita yang kudapat dari
salah satu situs di internet menyebutkan bahwa kelaparan saat ini tengah
menyelimuti kota Madaya dan Sergaya, salah satu kota kecil di Suriah.
Masyarakat di kedua kota tersebut terjebak perang sipil dan tidak bisa pergi ke
mana-mana. Bahkan aku mendengar kabar masyarakat di sana rela memakan rumput
hingga kucing dan anjing mereka hanya untuk bertahan hidup.
“Aku
tak bisa hidup begini terus, mungkin sebaiknya aku berhenti bekerja dan mencari
pekerjaan lain yang tidak menyita banyak waktuku. Setelah itu, aku bisa
bergabung sebagai relawan untuk membantu masyarakat Suriah,” ucapku dalam hati.
Akhirnya keputusan sudah bulat. Aku harus
kembali ke jalurku sebelumnya untuk menolong masyarakat yang kesusahan. Aku
akan bergabung menjadi relawan kemanusiaan. Bukan hanya sekedar menjadi relawan
yang berperan mengumpulkan dana bantuan, aku juga ingin pergi ke daerah rawan
konflik dan memberikan bantuan secara langsung ke sana. Aku ingin pergi ke
Suriah.
Sejurus kemudian, mengambil ponsel dan
langsung menelpon temanku yang aktif sebagai relawan sekarang. Aku ingin
menawarkan diriku sebagai relawan kemanusiaan. Pembicaraanku dengan temanku
berlangsung hangat. Dia dengan senang hati menerima kehadiranku dalam
organisasi kemanusiaan.
***
Keesokan harinya aku menghubungi kedua
orang tuaku dan memberitahu mereka bahwa aku akan kembali ke Banyuwangi. Terang saja orang tuaku heran melihatku ingin
kembali ke kampung halaman setelah baru beberapa bulan sebelumnya telah pulang.
Sesampai di rumah aku membicarakan
rencanaku pada orang tuaku. Mendengar keinginanku, ayah langsung menatapku
dengan tajam.
“Buat apa kamu ingin berhenti bekerja
dan jadi relawan kemanusiaan. Kamu kira kamu utusan Tuhan. Banyak orang-orang
yang miskin dan kelaparan di sana sini. Namun, kamu perlu ingat bahwa itu bukan
kewajibanmu untuk menolong mereka. Itu urusan Tuhan.”
“Sabar,
Yah,” Ibuku berusaha menenangkan ayahku. “Nak. Kamu serius ingin jadi relawan
dan pergi ke Suriah. Jika ingin membantu mereka, menyumbang saja kan cukup.
Pikir dulu. Jangan sampai nanti menyesal.”
“Iya.
Saya sudah berpikir masak-masak. Ini keputusan tepat. Setelah saya kembali dari
Suriah, saya akan mencari pekerjaan lagi. Pekerjaan yang sekiranya tidak
menguras waktu saya, sehingga saya bisa mengabdikan diri untuk agama dan
masyarakat.”
Ibuku
membisu beberapa saat namun tidak dengan ayahku.
“Mengapa
kamu yang harus pergi? Biarkan orang lain saja yang melakukannya!” ayahku
kembali menghantam diriku dengan perkataannya.
“Ayah,
aku harus pergi. Sekarang tidak banyak orang yang bersedia mendaftarkan dirinya
sebagai relawan yang mau pergi ke Suriah secara langsung. Aku merasa terpanggil
untuk pergi ke sana dan membantu masyarakat di sana.”
Ayahku
tetap tidak menerima ucapanku dan terus mendebat diriku hingga lebih dari dua
jam. Melihat pertikaian diriku dan ayahku yang terus memanas. Ibu berusaha
melerai kami dan memanggil kakak ayahku. Berkat pamanku, ayahku menjadi luluh
dan merestui keputusanku.
***
Tiga hari sepulang dari Banyuwangi,
aku kembali ke Surabaya. Di sana aku aku langsung aktif sebagai relawan
kemanusiaan. Aku bersama relawan lainnya saling bahu-membahu mengumpulkan dana
bantuan ke Suriah. Berkat jaringan sosialku yang luas, aku berhasil mendapatkan
sumbangan dana tiga miliar rupiah.
Hingga minggu kelima aku aktif sebagai
relawan, kami telah mengumpulkan dana lebih dari 36 miliar rupiah. Kami pun
siap sekarang menyalurkan bantuan ini. Ada aku dan 24 temanku sesama relawan
yang akan ke Suriah.
Hari ini koloni manusia yang lebih rindu
surga daripada keluarga serta yang menamakan dirinya sebagai aktivis sosial berkumpul
di bandara Juanda. Aku melihat kepergian teman-temanku tidak sendirian,
beberapa sanak kelurga datang mengantar mereka. Begitu pula denganku. Orang
tuaku yang semula kupikir tidak datang untuk melihatku, ternyata datang bersama
kakakku. Aku pun berpesan pada saudara lelakiku untuk menjaga orang tuaku.
Kami kemudian berangkat naik pesawat
menuju Istanbul, Turki. Sesampainya di Turki, kami mengontak NGO Humitarian1 yang bermarkas di
Istanbul. Di sana mereka sudah mempersiapkan mobil bagi kami untuk berangkat ke
Suriah. Di ibukota Turki itu pula, kami menggunakan dana yang terkumpul untuk
membeli makanan, obat-obatan, pakaian dan selimut serta fasilitas medis.
Setelah semua sudah dipersiapkan, kami
pun langsung melanjutkan perjalanan ke Suriah lewat jalur darat.
Perjalanan untuk mengantarkan bantuan
kepada warga Suriah tak semudah yang kubayangkan. Kami harus memasuki dua pos
pemeriksaan di perbatasan Turki-Suriah. Bukan hanya barang kami yang diperiksa.
Aku dan teman-teman relawan lainnya pun harus menjalani serangkaian wawancara.
Mirip dengan tes kerja bagiku. Selain itu, jalan raya menuju di Suriah banyak
yang rusak sehingga menyulitkan kami sampai di kota Madaya. Bahkan setiba kami
di kota Madaya. Kami kembali harus menjalani interogasi. Kami harus menunjukkan
surat izin yang sebelumnya kami dapatkan dari kedutaan Suriah yang menunjukkan
bahwa kami datang ke sini untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
***
Jalanan sekitar kota tampak dijaga
oleh petugas militer. Aku melihat ke arah langit biru yang membentang luas. Di
sana terdapat tiga pesawat drone2
yang mengelilingi kota. Aku tidak tahu negara mana saja pemilik pesawat
tersebut. Kami saat ini tengah membagikan bantuan makanan kepada masyarakat kota
Madaya. Meskipun awalnya proses pembagian bantuan nampak lancar namun
lama-kelamaan terjadi hiruk pikuk.
Aku bisa melihat kericuhan kecil
terjadi di belakang barisan antrian. Efek domino sepertinya tak dapat
dihindarkan. Barisan belakang terus mendesak hingga menjadi tak beraturan. Orang-orang
dari belakang merangkak ke depan seolah hendak melawan. Nampaknya mereka
khawatir tidak mendapat bantuan sumbangan. Suasana antrian yang semula kondusif
pun menjadi sangat berlawanan sekarang. Kami para relawan berusaha melerai
kerisuhan dan mengembalikan posisi semua.
“Tenang
semuanya nanti kebagian”
Meskipun begitu orang-orang tak
mendengar yang aku katakan. Mereka terus berebut bantuan yang kami bagikan. Beberapa
menit kemudian terdengar beberapa suara tembakan. Aku pun kaget mendengar suara
itu. Seorang tentara dengan kacamata hitam berteriak keras agar kami tertib.
Orang-orang yang sebelumnya berebut makanan kembali ke posisi antrian semula.
Melihat suasana kembali teratur, aku
pergi ke bagasi mobil belakang untuk mengambil pakaian dan selimut yang akan aku
bagikan. Sekilas aku melihat seorang anak perempuan di belakang mobil kami. Dia
berambut sangat pendek dan saat itu ia mengenakan brokat lengan panjang.
Anak perempuan itu jongkok menghadap
mobil kami dan sesekali menolehkan kepalanya ke arahku . Kesedihan tergambar
jelas dari wajahnya. Aku berpikir kenapa ia tidak ikut antri bersama yang
lainnya.
Aku kemudian menghampirinya dan
menanyakan keberadaan orang tuanya. Namun ia tidak menjawab.
“Apa kamu lapar?”
Anak perempuan itu hanya menggangguk
menanggapi pertanyaanku kali ini. Aku pun lantas memberikan roti padanya.
Anak perempuan itu makan roti yang
kuberikan, menoleh padaku beberapa saat,
lantas tersenyum. Keragu-raguan tidak lenyap dari wajahnya. Kepalanya miring
sejenak. Matanya sekejap berbinar dan berkata, “Seandainya kami bukan orang
Islam, mungkin kami tidak akan bernasib seperti ini”
Aku kaget mendengar perkataannya.
Sejenak aku berpikir bahwa mungkin hal itu benar. Konflik dalam dunia Islam
selalu terjadi baik karena perebutan kekuasaan atau perpecahan golongan. Bisa
pula karena kita terlalu mudah diadu domba pihak ketiga.
Aku dulu pernah memikirkan, seandainya
masyarakat negaraku mayoritas bukan penganut agama Islam, mungkinkah negaraku
akan jauh lebih berkembang sekarang. Mungkinkah selama ini, agama Islam menjadi
penghambat kemajuan umat manusia dan penyebab kesengsaraan. Apakah penderitaan
masyarakat negara-negara Timur Tengah adalah salah agama Islam? Aku tidak tahu
jawabannya. Dalam hati aku berusaha menyangkal bahwa agama Islam sebagai sumber
konflik. Oleh sebab itu, sembari sejak remaja aku ingin memajukan dan
mengembalikan kejayaan agama ini. Aku ingin menunjukkan pada orang yang
mengangungkan akal pikiran mereka bahwa agama Islam merupakan petunjuk nyata
dari Tuhan.
Tatkala
aku berusaha mengatakan bahwa agama ini bukan penyebab kondisi di negaranya,
anak perempuan itu tiba-tiba berlari jauh pergi dariku, seolah-olah ia tahu apa
yang akan kukatakan.
***
Sehari setelah memberikan bantuan di
kota Madaya, aku bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju markas misi medis
internasional di kota Damaskus. Kami berencana memberikan bantuan obat-obatan
dan perlengkapan medis lainnya pada dokter yang bekerja di sana. Sebelum pergi,
aku berusaha menghubungi orang tuaku untuk memberitahukan bahwa kondisiku
sehat-sehat saja. Namun ternyata tidak cukup sinyal di sini.
Di markas medis intenasional, rupanya
sudah menunggu beberapa teman relawan lainnya. Mereka berasal dari berbagai
negara. Kami pun diundang untuk makan bersama. Aku merasa begitu senang
rasanya. Bertemu dengan orang-orang baru dan merasa memiliki manfaat. Namun
tiba-tiba suasana hangat berubah menjadi ketakutan.
Suara ledakan terdengar dari atas gedung.
Aku dan relawan lainnya mulai panik. Kami berlarian berusaha keluar gedung. Aku
tidak habis berpikir bagaimana mungkin ada pihak yang berani menyerang pusat
bantuan medis internasional.
Tiba-tiba kepalaku terasa sakit.
Bongkahan atap telah menimpa diriku. Kepalaku berdarah. Aku mulai kehilangan
kesadaranku. Aku ingin berlari tetapi tak sanggup. Suara ledakan kembali
terdengar. Kini tepat di sebelahku.
***
Aku mulai merasa khawatir dengan
kondisi putraku di Suriah. Sudah beberapa minggu dia tidak menghubungi kami. Secarik
kopi hangat masih belum bisa menghilangkan kecemasan dalam pikiranku. Mungkin
tayangan televisi akan membuat perasaanku jadi nyaman. Aku mengambil remote dan membuka beberapa saluran.
Ketika membuka saluran berita, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi.
“Tadi malam markas bantuan medis
internasional di Damaskus terkena serangan roket. Saat ini belum ada pihak yang
mengaku bertanggung jawab atas serangan roket yang terjadi. Serangan roket
telah menewaskan puluhan relawan asing. Di antara para relawan tersebut
disebutkan ada relawan asal Indonesia. Berikut ini adalah daftar relawan
Indonesia yang kami dapatkan meninggal saat ledakan terjadi,” ucap penyiar
berita dengan keras.
Mendengar kata-kata itu, jantungku
berdetak kencang. Aku tak kuasa menahan tangis ketika melihat nama anakku terpampang
jelas pada layar televisi sebagai salah satu korban meninggal serangan roket.
1)
Organisasi relawan kemanusiaan internasional yang bermarkas di beberapa negara
2)
Pesawat tanpa awak yang memliki bentuk, ukuran, konfigurasi dan karakter
bervariasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar